Jadwal Menghimpit
Tangan-tangan kantuk belum terangkat sepenuhnya dari mataku sehingga sekitar jam delapan aku berbaring lagi di kasur. Aku baru benar-benar terjaga sekitar jam setengah sembilan, dan segera memeriksa tablet. Via mengingatkan aku tentang pelatihan penulisan online hari ini di kampus. Kampus sendiri ditutup karena menjelang hari raya Idul Qurban.
Aku bergegas mandi dan berangkat ke kampus. Di burjo, aku bertemu dengan Budi dan berkoordinasi untuk latihan futsal Senin minggu depan. Kusarankan untuk mengajak mahasiswa baru dan Budi menyanggupi untuk memesan lapangan. Kuberi Budi 50 ribu. Setelah sarapan dan mengobrol sejenak dengan Bang Ipul, cepat-cepat aku ke asrama.
Di asrama perempuan, sudah ada Lubna, Via, dan Susan. Erma ada, tetapi tidak dijadwalkan untuk ikut pelatihan hari ini. Sejak jam 10 hingga jam 12, aku berkonsentrasi mengajari Susan dan Lubna menulis. Susan sudah mulai pintar menganalisis dan menulis ulang berita. Sementara itu, Lubna baru sampai tahap menulis ulang berita secara bebas.
Jadwal untuk Via terpaksa diundur hingga Senin, dibarengkan dengan Erma. Pasalnya, Via tidak membawa laptop dan hanya meminjam laptop Zahra. Laptop pinjaman itu pun harus diinstal ulang Firefox-nya. Padahal, koneksi internet tidak begitu bagus sehingga perhatianku terpecah antara mengajari Susan dan Lubna dan menyiapkan laptop pinjaman.
Jam 12, aku terpaksa pamit karena masjid mulai ramai dengan orang yang akan Jumatan. Lagipula, ada tenggat pekerjaan yang harus diselesaikan sebelum jam 2, dan setelah jam 3 aku harus menemui mahasiswa S2 dari Solo yang akan mewawancaraiku untuk tesisnya. Sialnya, setiba di kamar, koneksi internet hancur lebur. (Seseorang)
Aku bergegas mandi dan berangkat ke kampus. Di burjo, aku bertemu dengan Budi dan berkoordinasi untuk latihan futsal Senin minggu depan. Kusarankan untuk mengajak mahasiswa baru dan Budi menyanggupi untuk memesan lapangan. Kuberi Budi 50 ribu. Setelah sarapan dan mengobrol sejenak dengan Bang Ipul, cepat-cepat aku ke asrama.
Di asrama perempuan, sudah ada Lubna, Via, dan Susan. Erma ada, tetapi tidak dijadwalkan untuk ikut pelatihan hari ini. Sejak jam 10 hingga jam 12, aku berkonsentrasi mengajari Susan dan Lubna menulis. Susan sudah mulai pintar menganalisis dan menulis ulang berita. Sementara itu, Lubna baru sampai tahap menulis ulang berita secara bebas.
Jadwal untuk Via terpaksa diundur hingga Senin, dibarengkan dengan Erma. Pasalnya, Via tidak membawa laptop dan hanya meminjam laptop Zahra. Laptop pinjaman itu pun harus diinstal ulang Firefox-nya. Padahal, koneksi internet tidak begitu bagus sehingga perhatianku terpecah antara mengajari Susan dan Lubna dan menyiapkan laptop pinjaman.
Jam 12, aku terpaksa pamit karena masjid mulai ramai dengan orang yang akan Jumatan. Lagipula, ada tenggat pekerjaan yang harus diselesaikan sebelum jam 2, dan setelah jam 3 aku harus menemui mahasiswa S2 dari Solo yang akan mewawancaraiku untuk tesisnya. Sialnya, setiba di kamar, koneksi internet hancur lebur. (Seseorang)
Komentar
Posting Komentar